Jumat, 27 April 2018

pengembangan kurikulum


Pengembangan Kurikulum BK

Nama: Muhammad Firdaus
Nim  : 160213114  

Kurikulum merupakan suatu perangkat atau program kerja yang diberikan kepada peserta didik dalam mencapai tujuan yang diharapkan secara efektif, dimana kurikulum ini diberikan kepada peserta didik dalam suatu perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga pendidikan yayasan  dan diimpementasikan ke sekolah sesuai dengan kebutuhan siswa tersebut, penegmbangan kurikulum ini adalah istilah konprehensif yang mana didalamnya mencakup, perencanaan, penerapan dan evaluasi.
Pentingnya mempelajari pengembangan kurikulum Bk adalah agar seorang guru Bk dapat mengetahui proses dan langkah apa saja yang akan dilakukan  dalam pengembangan kurikulum Bk, serta melihat kebutuhan siswa apa saja yang diperlukan klien dalam mencapai tujuan bimbingan, dengan adanya pengembangan kurikulum bk ini memudahkan konselor atau guru BK dalam membantu klien untuk  pencapain tujuan yang diinginkan bagi klien atau peserta didik karena kurikulum itu ibarat panduan, apabila panduan kita ada maka kita akan mudah dalam mencapai tujuan dan begitu pula sebaliknya.

1.      Kurikulum Sebagai Program
Program dapat diartikan sebagai suatu rencana, Hornby dan Parnwell (1972) mengartikan program sebagai plan of what is to be done atau secara harfiah lebih sering disebut rencana dari suatu yang dikerjakan. Ahli lain yaitu Bowers & Hatch (2002) mengemukakan bahwa program is a coherent sequence of instruction based upon a validated set of competencies.
Jadi dari pengertian program diatas dapat disimpulkan bahwa program adalah suatu rencana yang disusun secara sistematis dan terpadu sehingga memudahkan  untuk hasilnya dapat diukur didalam pelaksanaannya.
program bimbingan bertuju bagi semua individu untuk membantu keberhasilan dalam bidang tertentu, misalnya keberhasilan dalam mengembangkan potensi yang dimiliki siswa. Program ini bertujuan memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh keterampilan-keterampilan khusus untuk memcapai keberhasilan melalui kesempatan belajar yang proaktif dan preventif.
2.      Langkah Pengembangan Kurikulum
Peters & Shetrezer (1974) mengemukakan bahwa dalam mengembangkan kurikulum meliputi:

  •  Perencanaan (planning)
Perencanaan merupakan bagian terpenting dalam pengembangan program dan meliputi semua kegiatan yang akan mempergunakan sumber yang ada agar kegiatan bimbingan dapat terlaksana sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Nurihsan (2005) mengemukakan bahwa dengan merencanakan program secara matang maka akan dapat memperoleh beberapa manfaat yaitu dengan adanya program pelaksanaan bimbingan akan lebih terarah dan memudahkan konsleor dalam mengontrol dan mengevaluasi egiatan-kegiatan yang dilakukan, serta terlaksananya program bimbingan secraa efektif dan efisien.

  • Membuat Keputusan (decision making)
Dalam membuat kegiatan, maka terlebih dahulu kita harus menentukan keputusan secara seksama. Tujuannya agar semua keputusan berimplementasi dengan hasil program yang dilaksanakan. Oleh karena itu dalam membuat keputusan haruslah memperhatikan faktor irasional yang muncul setelah menentukan tujuan yang akan dicapai dan perencanaan yang telah dilakukan.

  •  Mengkoordinasikan (coordinating)
Kegiatan koordinasi ialah kegiatan yang dilakukan secara bersama dalam satu unit kerja agar memiliki kemampuan timwork yang solid sehingga keterlibatan orang-orang dalam pengembangan program bimbingan menjadi lebih efektif.

  • Mengarahkan (directing)
Mengarahkan berarti kegiatan mengatur dan menata semua kegiatan program bimbingan yang ingin dilaksakan dengan tujuan agar  pengembangan program bimbingan tersebut menjadi lebih teratur dan efektivitas. Dalam kegiatan mengarahkan bukan hanya meliputi kegiatan perencanaan dan pemanfaatan saja akan tetapi, dapat mempertimbangkan dengan baik sumber daya yang digunakan dalam melakukan kegiatan tersebut.

  •  Mengembangkan (developing)
Developing disini dapat diartikan sebagai sarana untuk menguji secara teliti tujuan program yang telah dibuat dan dijaga kelangsungannya

  •  Evaluasi (evaluating)
Evaluasi yaitu kegiatan mengukur hasil program yang telah dilaksanakan, serta dapat mengetahui sejauh mana keberhasilan program yang telah disusun dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan dimana keberhasilan tersebut dapat diukur ketercapaiannya dalam proses, hasil jangka menengah dan hasil akhir.Dengan demikian kita dapat mengetahui bahwa pengembangan kurikulum itu meliputi perencanaan, membuat keputusan, mengkoordinasi, mengarahkan serta mengevalusai program pengembangan kurikulum tersebut.
Jadi penting bagi setiap pendidik untuk mempelajari setiap perubahan kurikulum yang ada karena guru merupakan titik terpenting yang akan melaksanakan dan menerapkan kurikulum tersebut dilapangan (kelas). Disini gurulah yang berperan penting dalam keberhasilan proses belajar mengajar karena gurulah yang akan mengimplementasikan kurikulum pada peserta didik. Begitu juga dalam bimbingan dan konseling, konselor dituntut untuk mempelajari setiap pengembangan kurikulum Bimbingan dan Konseling .
Adapun pentingnya konselor atau guru BK mempelajari kurikulum BK yaitu sebagai berikut :
1.      Dengan mempelajari kurikulum bimbingan dan konseling,  konselor dapat mengetahui setiap metode-metode yang diterapkan dalam mengajar sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan para peserta didik.
2.      Konselor juga dapat merencanakan kegiatan yang akan dilakukan untuk menunjang keaktifan peserta didik berdasarkan pengalaman yang dipusatkan kepada masalah-masalah agar peserta didik dapat menyelesaikan permasalahannya. Hal ini menunjukan bahwa setiap individu atau peserta didik mampu bekerja dan berkembang menurut kemampuan masing-masing. Konselor  juga dapat mengetahui dan memperbaiki situasi belajar yang kurang kondusif dengan mengadakan evaluasi terhadap perkembangan siswa dalam menyerap sejumlah pengetahuan yang telah diberikan guru mata pelajaran.
3.      Dengan mempelajari kurikulum BK, konselor dapat mengimplementasikannya kedalam  suatu proram tahunan dan semesteran dengan melihat need assesment peserta didik dan memberikan layanan untuk memenuhi kebutuan peserta didik yang memilki beraneka ragam pengalaman dan perkembangan.
            Jadi sangat penting bagi guru bimbingan dan konseling atau konselor untuk mempelajari pengembangan kurikulum BK karena untuk melaksanakan suatu program hanya konselor yang terpecaya dan memiliki kompetensi pada bidangnya saja yang dapat melaksanakan program tersebut.
Dengan mempelajari pengembangan kurikulum BK kita dapat mengetahui  bagaimana studi lapangan kurikulum yang mencakup perencanaan kurirkulum, pelaksanaaan serta perbaikannya, dan kurikulum itu menentukan kualitas pendidikan akan tetapi bagaimana usaha seorang guru dalam mencapai kurikulum yang baik


Mungkin ilmu yang saya dapatkan tentang pengembangan kurikulum belum seberapa yang mana saya baru mengenal kurikulum dan bagaiman kerangkan dari pada kurikulum saat saya mengambil mata kuliah pengembangan kurikulum. Dan saya pun masih dalam proses belajar untuk bisa mendalami kurikulum yang sedang di terapakan  ataupun bayangan  pengembagan kurikulum yang akan berubah nantinya mengikuti perubahab zaman.
Secara garis besar perubahan kurikulum tentunya bertujuan untuk terus memperbaiki dan merevisi apa yang menjadi kelemahan dari kurikulum sebelumnya sesuai dengan keutuhan dan perkembangan zaman. seperti yang kita ketahui sejauh ini di indonesia telah melakukan perubahan kurikulum sebanyak 4 x yaitu kurikulum 98, KBK, KTSP(2006), dan kurikulum 2013 (K13). Dimana perubahan yang dilakukan sebenarnya adalah agar pendidikan di Indonesia terus maju sesuai kebutuhan dan perkembangan ilmu dan tekhnologi.  Sejauh ini yang saya ketahui kurikulum 2013 sangatlah bagus, karena dalam kurikulum tersebut implementasinya sangat kompleks dan terinci untuk menentukan assessment apa yang harus harus dilakukan dari awal kepada peserta didik, hanya saja memang dibutuhkan kesiapan dari pendidik, sarana dan prasarana yang sangat mendukung agar kurikulum 2013 dapat terimplementasi dengan baik di setiap jenjang satuan  pendidikan kurikulum 2013 menekankan siswa berpikir secara secara ilmiah yang memang sangat bersentuhan langsung dalam kehidupan sehari-hari yang siswa memiliki tujuan akhir agar setaip siwa itu memiliki pemahaman dan penalaran yang baik. Dan jujur semenjak saya mempelajari kurikulum saya itu baru mengetahui kalau kita selama ini berlajar itu berdasarkan apa yang sudah di tetapkan Karena awalnya saya kira kurikulum itu tidak berganti-ganti. Dan dari disini saya juga bisa mengambil pelajaran kalau guru itu memang benar-benar gk bisa sembarangan jadi guru, tap dia harus mengerti dan memiliki wawasan yang luas.
Dan juga Ada pihak-pihak yang terlibat dalam dan ikut berpartisipasi dalam proses pengembangan kurikulum yaitu sebagai berikut :
1.      Para administrator pendidikan, yaitu para perancang yang terdapat dilingkungan Departemen Pendidikan Nasional yang bertugas menyusun dasar-dasar hukum, kerangka kurikulum, tujuan yang ingin dicapai dan standar kompetensi. Dimana mereka membuat rancangan berdasarkan kebutuhan para peserta didik sehingga dapat diaplikasikan dan disebar luaskan pada satuan pendidikan atau sekolah-sekolah.
2.      Satuan pendidikan adalah jajaran masyarakat yang ikut terllibat dalam menerapkan kurikulum guna tercapainnya tujuan kurikulum dengan efektif.


Yang saya tahu bahwqa sekolah-sekolah di Indonesia telah menerapkan berbagai kurikulum bahkan sampai 10 kali sampai sekarang. Diantaranya kurikulum KTSP ataupun kurikulum K13/ 2013. Kurikulum KTSP adalah sebuah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Sedangkan kurikulum 2013 adalah kurikulum yang berbasis akan karakter, kompetensi dan kemampuan yang mewajibakan peserta didik untuk aktif dalam pembelajaran. Dimana kutikulum ini  bertujuan untuk meningkatkan dan mengembangkan pengetahuan peserta didik serta mempersonalisasikan nilai-nilai karakter dan ahklak mulia seingga dapat diimplementasikan pada kehidupan sehari-hari. 
Dari observasi yang telah saya lakukan disekitar tempat tinggal saya bahwasanya , banyak sekolah yang lebih menerapkan kurikulum 2013 dibanding KTSP. Karena kurikulum 2013 lebih memperhatikan keaktifan peserta didik dalam proses belajar mengajar, sehingga konselor atau guru BK dapat mengetahui perkembangan peserta didik. Program pelayanan bimbingan dan konseling secara menyeluru harus memuat pelayanan peminatan peserta didik, khususnya peminatan pada  mata pelajaran, peminatan pendalaman materi dan peminatan studi lanjutan. Dimana guru bimbingan konseling memilki tanggung jawab untuk membantu peserta didik dalam memilih dan menerapkan peminatan pada mata pelajaran sesuai dengan minat, bakat dan potensi yang dimilikinya. Inilah yang menjadi pedoman para guru bimbingan dan konseling untuk membuat program kerja dengan mengimplementasikan kurikulum 2013. Kurikulum ini juga sangat efektif untuk mengetahui masalah-masalah yang terjadi pada perkembangan peserta didik.
Sejauh ini, kurikulum bimbingan konseling sendiri sudah terlaksanakan dengan baik dan sudah mencapai standar pembelajaran. Namun seperti kita ketahui bersama bahwa kurangnya waktu yang diberikan oleh sekolah maupun yayasan kepada guru bimbingan konseling untuk memberikan layanan menjadi hambatan sendiri terlaksanakannya program yang telah dirancang oleh guru bk itu sendiri, sehingga kurikulum  BK hanya dijadikan sebagai  bahan acuan atau program layanan namun tidak diaplikasikan dan diterapkan dengan maksimal dengan alasan salah satunya seperti masalah yang ada di atas dan mungkin juga ada beberapa pihak yang belum mengenal apa itu BK sendiri sehingga Kurikulum BK tidak diberi kesempatan untuk mengimplementasikannya pada peserta didik.
Sekolah                            :    SMA  MODAL BANGSA                         
Kelas                               :    X
Mata Pelajaran / Layanan   : Bimbingan dan Konseling                                         
Semester                          : Ganjil/Genap

Standar Kompetensi /
Tugas Perkembangan 
·         Mencapai kematangan dalam beriman dan bertaqwa Kepada TuhanYang Maha Esa.
·         Mencapai kematangan dalam hubungan teman sebaya, serta kematangan dalam peranannya sebagai pria atau wanita.
·         Mencapai kematangan dalam pilihan karir.
·         Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional, sosial, intelektual dan ekonomi.
·         Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan
·         berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
·         Mengembangkan kemampuan komunikasi sosial dan intelektual, serta apresiasi seni.
·         Mencapai kematangan dalam sistem etika dan nilai.
Kompetensi Dasar      
Siswa mampu mengetahui tentang menyontek, penyebab menyontek dan masalah-masalah yang timbul akibat dari menyontek

Materi Layanan
Indikator / Tujuan Layanan
Jenis Layanann
Bidang Bimbingan
Fungsi Layanan
        Menyontek
Informasi
Belajar
- Pemahaman 
- pencegahan
a.       Pengertian Menyontek
Memahami pengertian menyontek itu sendiri
b.      Faktor-faktor penyebab menyontek
Mengetahui apa-apa saja yang termasuk didalam faktor penyebab menyontek
c.       Dampak dari perbuatan menyontek
Mengerti apa saja yang terjadi setelah menyontek
d.      Cara mengatasi menyontek
Dapat mengetahui cara-cara agar dapat berhenti melakukan perbuatan tersebut

Jadi dengan adanya perkembabgan kurikulum BK di sekolah dapat memudahkan tahap kinerja guru BK dalam mengatasi masalah yang dihadapi siswa baik dalam bidang pribadi,sosial,belajar maupun karir.


Ada beberapa landasan utama dalam pengembangan suatu kurikulum, yaitu:
1.      Landasan Fisiologis
2.      Landasan Psikologis
3.      Landasan Sosial Budaya
4.      Landasan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi (IPTEK)
5.      Landasan Organisatoris

Pada bagian ini akan dibahas secara singkat landasan – landasan tersebut.
1.      Landasan Fisiologis

Pendidikan berintikan interaksi antar manusia, terutama antar pendidik dan terdidik untuk mencapai tujuan pendidikan. Di dalam interaksi tersebut terlibat isi yang diinteraksikan serta bagaimana interaksi tersebut berlangsung. Apakah yang menjadi tujuan pendidikan, siapa pendidik dan terdidik, apa isi pendidikan dan bagaimana proses interaksi pendidikan tersebut merupakan pertanyaan – pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang mendasar, yang esensial, yaitu jawaban – jawaban filosofis.
Landasan filosofis merupakan asumsi – asumsi tentang hakikat realitas, hakikat manusia, hakikat pengetahuan dan hakikat nilai yang menjadi titik tolak mengembangkan kurikulum. Asumsi – asumsi filosofis tersebut berimplikasi pada perumusan tujuan pendidikan, pengembangan isi atau materi pendidikan, penentuan strategi, serta pada peranan peserta didik dan peranan pendidik.
Landasan filosofis merupakan asumsi-asumsi tentang hakikat realitas, hakikat manusia, hakikat pengetahuan dan hakikat yang menjadi titik tolak mengembangkan kuikulum. Dimana asumsi tersebut berimplementasi kepada rumusan tujuan pendidikan, pengembangan isi atau materi pendidikan, serta peranan peserta didik dan pendidik.  
Contohnya: landasan filosofis pada pembuatan kurikulum yaitu melihat kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan peserta didik dan keadaan sekitarnya sehingga hal tersebut dapat menjadi pedoman dan konsep dasar  agar peneliti dapat merancang dan membuat kurikulum berdasarkan apa yang dibutukan. Selain itu, pembuatan kurikulum juga harus berpedoman pada teori-teori yang berkaitan dengan kurikulum agar tercapainnya tujuan yang ingin dicapai. Di Indonesia sendiri mempunyai landasan yang berorientasi kepada nilai-nilai pancasila dan UUD 1945, seingga dalam pembuatan kurikulum juga arus menerapkan nilai-nilai tersebut didalamnya.

2.      Landasan Psikologi
Landasan psikologis merupakan aumsi – asumsi yang bersumber dari psikologi yang dijadikan titik tolak dalam mengembangkan kurikulum. Ada dua jenis psikologi yang harus menjadi acuan yaitu psikologi perkembangan dan psikologi belajar. psikologi perkembangan mempelajari proses dan karakteristik perkembangan peserta didik sebagai subjek pendidikan, sedangkan psikologi belajar mempelajari tingkah laku peserta didik dalam situasi belajar.
    Psikologi belajar mengetengahkan beberapa teori belajar yang masing – masing menelaah proses mental dan intelektual perbuatan belajar tersebut. Kurikulum yang dikembangkan hendaknya selaras dengan proses belajar yang dilakukan oleh siswa. Ada tiga jenis teori belajar yang mempunyai pengaruh besar dalam pengembangan kurikulum, yaitu teori belajar kognitif, bahavioristik dan humanistik.
Landasan Psikologis merupakan asumsi-asumsi yang bersumber dari psikologi yang dijadikan titik tolak dalam mengembangkan kurikulum. Ada dua jenis psikologi yang menjadi acuan yaitu psikologi perkembangan dan psikologi belajar dimana psikologi perkembangan ini adalah perkembangan karakteristik sebagai subjek pendidikan sedangkan psikologi belajar mempelajari tingkah laku peserta didik dalam situasi belajar.
Contoh: perkembangan pelajar dan proses dan hasil pembelajaran siswa,  berkaitan dengan mental, serta tingkah laku dalam berinteraksi si pelajar
\
3.      Landasan Sosial Budaya
Landasan sosial budaya merupakan asumsi – asumsi yang bersumber dari sosiologi dan antropologi yang dijadikan titik tolak dalam mengembangkan kurikulum. Karakteristik sosial budaya dimana peserta didik hidup berimplikasi pada program pendidikan yang akan dikembangkan.   Kebudayaan bukan hanya berupa material belaka, melainkan juga berupa sikap mental, cara berpikir dan kebiasaan hidup. Kebudayaan mencakup berbagai dimensi, diantaranya keluarga, pendidikan, politik, ekonomi, sosial, teknologi, dan rekreasi. Semua dimensi tersebut hendaknya dipertimbangkan dalam proses pengembangan kurikulum.
Jadi, perkembangan kurikulum juga harus disesuaikan dengan keadaan lingkungan dan kebudayaan disetiap daerah masing-masing karena setiap daerah memiliki perbedaan dan pandangan masing-masing tentang kebudayaan yang diterapkan dalam masyarakat. Dengan demikian, kurikulum yang dikembangkan sudah seharusnya mempertimbangkan, merespon dan berlandaskan pada perkembagan sosial budaya dalam suatu masyarakat namun tetap mengikuti perkembangan zaman dan IPTEK.
Contohnya:
Membuat aspek sikap didalam pengembangan kurikulum, adanya menghormati guru,mental yang kuat,sikapdan sopan santun dan yang lain-lain dan cara berpikir yang benar dan kebiasaan hidup yang baik

4.      Landasan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi (IPTEK)
Landasan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pengembangan kurikulum merupakan asumsi – asumsi yang bersumber dari hasil riset atau penelitian dan aplikasi dari ilmu pengetahuan yang menjadi titik tolak dalam mengembangkan kurikulum. Pengembangan kurikulum membutuhkan sumbangan dari berbagai kajian ilmiah dan teknologi baik yang bersifat hardware maupun software sehingga pendidikan yang dilaksanakan dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Landasan ini memfokuskan pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan perkembangan zaman. Ini lah landasan yang sangat penting dalam perkembangan kurikulum, karena apabila kurikulum dibuat dengan tidak mengikuti laju perkembangan teknologi maka kurikulum tersebut tidak akan berkembangan dan tidak akan mencapai tujuannya dengan optimal. Jadi kurikulum arus disesuaikan dengan perkembangan IPTEK agar membawa peserta didik pada masa yang lebih modern sekaligus kurikulum tersebut dapat memberikan bekal bagi peserta didik untuk menyongsong masa depan.   

Contohnya:bagaimana sekolah bisa memenuhi berbagai sarana dan prasarana yang berbasis tekhnologi  demi memunuhi proses belajar mengajar agar lebih efektif dan efesien.sesuai dengan perkembangan zaman.

5.      Landasan organisatoris
yaitu merupaka asas yang diberikan  dalam membentuk bahan pelajaran yang disusun untuk setiap jenjang, yang dilandaskan sesuai dengan pengetahuan dan tahap-tahapan peserta didik, yang mana telah diatur oleh pemerintah yaitu untuk jenjang sekolah dasar (SD), kemudian berkelanjutan ke sekolah menengah pertama (SMP), kemudian sekolah menengah akhir (SMA), dan dilanjutkan denagn bangku perkuliahan baik jenjang S1, S2, S3 yang mana semua itu membutuhkan organisir yang teratur dan sistematis, karena setiap jenjang itu miliki perbedaan baik secara fisik, mental, pengalaman dan kemampuan.
Contoh: Dalam metode mengajar seorang guru tidak bisa menyamakan cara mengajar anak SD dengan siswa yang duduk dibangku SMP,SMA,SMK karena akan terjadi kesulitan dalam memahami materi yang disampaikan guru.

semoga bermamfaat

1 komentar: